11.13.2009

banggakah kita menjadi pemuda-pemudi Indonesia


Bunyi petir beberapa hari terakhir ini semakin terdengar memekakkan kuping seolah sedang ingin mengatakan : ‘bangun.! siapkan peralatan kalian..’ . Ya dia mengamuk karena ulah kita semua dalam memperlakukan dan cara kita tidak merawat alam serta udara.

Derasnya air yang turun dari langit seakan menyambung salam pembuka tadi , maka dalam sekejap halaman disekitar kita berubah bentuknya . Menjadi genangan air yang secara perlahan membentuk sebuah danau hingga nanti berpotensi berubah lagi menjadi gelombang derasnya arus yang menyeret semua yang ada di permukaannya .

Kita semua masih senang bermain-main dengan bahaya .

dueERr..! lagi…., kalang kabut kita menghadapi naiknya harga minyak didunia yang sebenarnya sebagai salah satu wilayah kaya dan sebagai salah satu produsen kekayaan alam mustinya kita justru seharusnya bersuka cita . Mengapa hal tersebut bisa terjadi .. jawabannya sederhana :

‘kita tak pernah merasa perlu bercermin pada diri sendiri ‘.

Sumber daya alam kita tak pernah kita kelola dan mampu kita kuasai sendiri , akibatnya sungguh ironis sekali bila harga minyak dunia turun maka kita akan sangat bersedih hati sebab pendapatan negara dari sektor migas melorot drastis . Bagaimana kita harus membayar gaji pejabat negara dan fasilitas bagi rakyat yang harus dipenuhi negara .

lalu,

Bila harga minyak dunia naik seperti sekarang ini hingga bermain-main dibilangan angka 100 dollar per barelnya , maka kita juga tak kalah kalang kabutnya seperti sekarang ini , sebab beban berat subsidi juga semakin menjerat leher rasanya .

Bingung kita jadinya , harga minyak dunia turun…salah…naikpun……salah..!

Perusahaan model apakah ini , bila kita analogikan negara Republik Indonesia sebagai sebuah usaha besar yang dimiliki oleh kurang lebih 250 juta rakyatnya sebagai para stakeholder nya .

Masihkah layak disebut sebagai sebuah perusahaan ? Jangan-jangan memang bukan , sebab selama ini dia lebih berfungsi sebagai kran -kran bagi ujung - ujung pipa - pipa yang hanya mengalir ke kantong - kantong para penguasanya saja.

Karena itu mereka tak peduli pada hak para pemegang sahamnya , mereka hanya peduli untuk ngurusin kantong - kantong pertama yang disinggahi oleh kran - kran tersebut.

dueERRr..!lagi…, panggung pertunjukan politik sudah semakin dekat untuk dibuka . Berduyun duyun orang orang lama mendaftarkan diri untuk bisa masuk dalam barisan aktor pemainnya . Posternya masih sama , masih yang itu itu juga , masih yang harus menjanjikan rakyat untuk bisa percaya . Sebab rakyatnya ya memang suka dibohongin dan suka sekali terpesona oleh tampilan di mata .

Masihkan pemerintah pasca 2009 nanti dan kondisi kita nantinya ya masih sama saja seperti biasanya ini ..? Ya..tentu saja masih sama … jangan pernah berharap untuk ada perbaikan perbaikan kualitas hidup bagi kita , bila kita semua lagi lagi seperti yang saya katakan tadi ..

Senang dibohongin dan suka sekali oleh tampilan di mata .

Republik ini akan goncang tidak keruan bila supply kran-kran ke kantong-kantong para pengelolanya terganggu dan terhambat , alias semakin menetes mengecil duit yang bisa untuk menggaji dan menutupi biaya hidup mereka . Bagaimana dengan biaya hidup dan kesejahteraan para pemegang sahamnya ..? ‘emang gw pikirin’

Tak ada cara lain yang bisa ditempuh oleh kondisi semacam tersebut diatas selain seluruh para stakeholder memecat dan mengganti jajaran direksi - direksinya .
Lalu kemanakah gerangan suara-suara mereka , dimanakah gerangan para pemegang sahamnya tersebut .. apa mereka semua sudah buta …apa mereka semua sudah bisu …apa mereka semua sudah tuli … ataukah mereka semua sudah gila…

Saya hanya bertanya koq..silahkan anda sendiri yang menjawabnya masing-masing.

dueERr..! kondisi sosial kehidupan kita masuk ke babak baru berikutnya , yakni harus memahami dan menerima segala ketimpangan-ketimpangan sebagai satu konsekwensi yang lumrah dan biasa-biasa saja. Tak usah diributkan , tak perlu dipertentangkan dan tak perlu ..tak perlu …serta tak perlu lainnya .

Terima saja segala kemiskinan yang menimpa tetangga kita atau bahkan ke sanak saudara kita , terima saja segala musibah yang menimpa berjuta juta orang diluar sana..toh itu hanya kita lihat di layar televisi atau hanya kita baca di koran-koran saja .

Nggak ada hubungannya dengan kita sendiri secara langsung kan…?

Supaya hati nggak gundah dan pikiran tetap terjaga , ganti saja chanel telivisinya atau letakkan saja koran tersebut ditempatnya disusun yang rapi agar bila ada
tamu bertandang kerumah anda , mereka akan melihat bahwa anda masih up to date mencermati perkembangan dunia .

Selanjutnya tontonlah sinetron dan hiburan ringan yang mengembirakan hati dan bisa merangsang khayalan untuk membangun berbagai motivasi . Soal khayalan dan motivasi tersebut hanya menumpuk dan kemudian lalu mati….itu urusan yang lain lagi ..biarkan saja ….yang penting anda sudah berkhayal untuk punya motivasi .

Masyarakat pengkhayal motivasi , banggakah kita dengan julukan tersebut .., tentu saja jawabannya adalah tidak .

[+/-] Selengkapnya...

11.11.2009




KPK vs POLRI: Cicak Kok Mau Melawan Buaya!
Cicak Kok Mau Melawan Buaya

ISU tak sedap menerjang Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji. Telepon genggamnya disadap oleh penegak hukum lain. Penyadapan itu diduga terkait dengan penanganan kasus Bank Century.

Susno menyatakan dirinya tak marah atas penyadapan itu. ”Saya hanya menyesalkan,” ujarnya. Siapa penyadapnya, ia tak mau buka mulut. Lulusan Akademi Kepolisian 1977 ini menyebut penyadapan itu sebagai tindakan bodoh. Sehingga, ujarnya, ia justru sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati.

Sebelumnya, polisi memeriksa Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah lantaran disebut-sebut melakukan penyadapan tak sesuai prosedur dan ketentuan. Pemeriksaan Chandra dituding sebagai upaya polisi untuk melumpuhkan komisi yang galak terhadap koruptor itu. Apa yang terjadi sebenarnya? Pekan lalu, wartawan Tempo Anne L. Handayani, Ramidi, dan Wahyu Dhyatmika menemui Susno Duadji di ruang kerjanya untuk sebuah wawancara. Berikut petikan wawancara tersebut.

Polisi dituduh hendak menggoyang KPK karena memeriksa pimpinan KPK dengan tuduhan penyalahgunaan wewenang penyadapan. Komentar Anda?

Kalangan pers harus mencermati, apakah karena dia (Chandra Hamzah) pimpinan KPK lalu ada masalah seperti ini tidak disidik. Katanya, asas hukum kita, semua sama di muka hukum. Jelek sekali polisi kalau ada orang melanggar undang-undang lalu dibiarkan. Kami sudah berupaya netral dan menjadi polisi profesional.

Apa memang ditemukan penyalahgunaan wewenang untuk penyadapan itu?

Saya tidak mengatakan penyalahgunaan atau apa. Silakan masyarakat menilai. Menurut aturan, yang boleh disadap itu orang yang dalam penyidikan korupsi. Kalau Rhani Juliani, apa itu korupsi? Dia bukan pengusaha, bukan pegawai negeri, bukan juga rekanan dari perusahaan. Kalau korupsi, korupsi apa, harus jelas.

Tapi sikap Anda ini dinilai menggembosi KPK?

Kalau kami mau menggembosi itu gampang. Tarik semua personel polisi, jaksa. Nanti sore juga bisa gembos. Lalu Komisi III nggak usah beri anggaran. Kami berteriak-teriak ini supaya baik republik ini.

Kami mendapat informasi, saat diperiksa Antasari membeberkan keburukan pimpinan KPK yang lain.

Saya tidak tahu, tanya ke Antasari. Lha, sekarang kalau pimpinannya yang mengatakan lembaga itu bobrok, berarti parah, dong. Dia kan yang paling tahu. Dia kan pimpinannya.

Ada kesan polisi dan KPK justru berkompetisi, bukan bersinergi. Benar?

Tidak, yang melahirkan KPK itu polisi dan jaksa. Saya anggota tim perancang undang-undang (KPK). Kami sangat mendukung. Tapi karena opini yang dibentuk salah, seolah-olah jadi pesaing. Padahal 125 personel yang melakukan penangkapan dan penyelidikan (di KPK) itu kan personel polisi. Penuntutnya juga dari kejaksaan. Kalau nggak gitu, ya matek (mati) mereka. Jadi, tak benar jika dikatakan ada persaingan

Anda, kabarnya, juga akan ditangkap tim KPK karena terkait kasus Bank Century?

Ah, ya enggak, itu kan dibesar-besarkan. Mau disergap, timbul pertanyaan siapa yang mau menyergap. Mereka kan anak buah saya. Kalau bukan mereka, siapa yang mau nangkap? Makanya, Kabareskrim itu dipilih orang baik, agar tidak ditangkap.

Kalau penyidik KPK yang menangkap?
Mana berani dia nangkap?

Karena adanya berita itu, Anda katanya marah sekali sehingga kemudian memanggil semua polisi yang bertugas di KPK?

Tidak, saya tidak marah. Mereka kan anak buah saya. Mereka pasti memberi tahu saya. Saya cuma kasih tahu kepada mereka, gunakan kewenangan itu dengan baik.

Apa benar Anda minta imbalan untuk penerbitan surat kepada Bank Century agar mencairkan uang Boedi Sampoerno?

Imbalan apa? Apanya yang dikeluarkan? Semua akan dibayar, kok. Bank itu tidak mati, semua aset diakui dan ada. Terus apa lagi yang mesti diurus? Yang perlu diurus, uang yang dilarikan Robert Tantular itu.

Jadi, apa konteksnya saat itu Anda mengirim surat ke Bank Century?

Konteksnya, saya minta jangan dicairkan dulu rekening yang besar-besar. Kami teliti dulu. Paling besar kan punya Boedi Sampoerna, nilainya triliunan rupiah. Kami periksa dulu, kenapa Boedi Sampoerna awalnya nggak mau melaporkan.

Menurut Anda, kenapa ada pihak yang berprasangka negatif kepada Anda?

Kalau orang berprasangka, saya tidak boleh marah, karena kedudukan ini (Kabareskrim) memang strategis. Tetapi saya menyesal, kok masih ada orang yang goblok. Gimana tidak goblok, sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kerjakan kok dicari-cari. Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya. Apakah buaya marah? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh saja. Kita itu yang memintarkan, tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter. Dikasih kekuasaan kok malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa.
http://majalah.tempointeraktif.com/i...130792.id.html

-----------------Cicak Kok Mau Melawan Buaya

ISU tak sedap menerjang Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji. Telepon genggamnya disadap oleh penegak hukum lain. Penyadapan itu diduga terkait dengan penanganan kasus Bank Century.

Susno menyatakan dirinya tak marah atas penyadapan itu. ”Saya hanya menyesalkan,” ujarnya. Siapa penyadapnya, ia tak mau buka mulut. Lulusan Akademi Kepolisian 1977 ini menyebut penyadapan itu sebagai tindakan bodoh. Sehingga, ujarnya, ia justru sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati.

[+/-] Selengkapnya...

HANYA ORANG-ORANG YANG MAMPU BERFIKIR CEPAT, KRITIS DAN LUGAS YANG MENJADI ORANG SUKSES